Reinkarnasi

Standard

“Kau percaya reinkarnasi?” Tanyanya padaku
“Tidak. Memangnya kau percaya?” Jawabku sambil menatap wajahnya, kulihat dia tersenyum.
“Entahlah, tapi rasanya aku ingin mengalaminya.” Matanya menatap awan, seperti sedang membayangkan sesuatu. “Jika reinkarnasi itu ada, aku ingin dilahirkan kembali menjadi ayahmu” Dia terdiam. Lalu dia berbicara lagi, “Menjadi orang yang selallu kau cintai, utuh. Selalu kau kagumi, selalu kau banggakan. Selalu bisa membuatmu tersenyum, selalu menjadi inspirasimu, selalu menjadi pelindungmu. Aku ingin menjadi seperti dia.”
Aku hanya bisa terdiam, seperti biasanya. Kualihkan pandanganku menuju awan, mataku mulai panas. Aku tak ingin dia melihat air mataku muncul, aku tak ingin dia tahu.
Tapi dia sepertinya tahu, dia malah menggenggam erat tanganku. Dan sensasi itu datang kembali, sensasi yang sama seperti saat pertama kali kau memegang tanganku dulu, sensasi itu tak pernah berubah hingga saat ini. Dan akhirnya aku tak bisa menahan air mata itu.
Sambil terisak, “Reinkarnasi itu tidak ada. Kau harus percaya itu. Dan maaf, aku harus pergi.”
Aku bergegas pergi, aku bahkan tak menatap matanya, mata yang bisa menghancurkan tembok pertahananku. Ya, dengan melihat matanya saja aku pasti bisa berubah pikiran, dan aku harus memastikan hal itu tak terjadi. Maka aku langkahkan kakiku secepat mungkin, sejauh mungkin darinya. Itu lebih baik menurutku.

*mentok ah udah dulu ha ha ha*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s